Hai sobat! Apa kabar? Semoga dalam keadaan baik yaa^^
Ini pertama kalinya aku post cerita yang aku tulis *_*
Masih banyak kekurangannya , hehe :D
Kelanjutannya ntar nyusul kalo ada yang tertarik dan penasaran. Semoga saja ada , heheh^^
Kalau tidak ada , apa boleh buat? Akan tetap saya lanjut ceritanya , wkwkw :v
Silahkan dibaca^^
Dia Jodohku
#Part 1
Matahari begitu terik dan membakar kulitku, Aku terus berjalan menuju rumahku tercinta.
Hari ini aku telat pulang sekolah , karena ada pelajaran tambahan. Apalagi sekarang aku sudah kelas 3 SMA , semakin banyak tugas yang harus ku selesaikan.
Setelah sampai di rumah , Aku mengganti seragamku dengan pakaian sehari-hari yang biasa ku pakai. Setelah itu Aku langsung bergegas ke kebun untuk membantu kedua orang tuaku yang telah bekerja dari pagi. Aku memang terlahir dari keluarga yang sederhana , pekerjaan kedua orang tuaku hanyalah sebagai tukang kebun dan Aku tidak mempunyai saudara kandung. Penghasilan orangtuaku memanglah sedikit , tapi itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Walaupun keadaanku seperti ini aku merasa bahagia karena mempunyai orang tua yang hebat seperti mereka.
Ibuku memberiku nama "Widya Liza" namun , teman-temanku sering memanggilku dengan sebutan "Ghost".
Aku tidak tahu alasannya , mungkin karena aku terlalu pendiam dan terkenal cuek serta jarang senyum.
Tapi entahlah , yang jelas Aku tak suka dengan sebutan itu.
Aku selalu di bully di sekolah. Aku mempunyai satu sahabat yang mengerti aku. Agnes , ya , itulah dia. Agnes selalu ada bersamaku dalam suka maupun duka.
Latar belakang kami sangatlah berbeda , dia terlahir dari keluarga kaya. Dia orang yang sangat baik, terutama kepadaku.
Malam hari yang begitu dingin , Aku duduk termenung melihat ke arah jendela kamarku yang terbuka lebar. Entah apa yang ku pikirkan.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. Namun Aku tak memperdulikannya.
Tok...tok...tok..."Widya , apa kamu sudah tidur?" tanya Ibuku sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku tersentak dalam lamunan, lalu aku berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Belum , ada apa Bu?" Jawabku.
"Kita kedatangan tamu nak , ayo ikut Ibu ke ruang tamu." Ibu mengajakku.
Hari ini aku telat pulang sekolah , karena ada pelajaran tambahan. Apalagi sekarang aku sudah kelas 3 SMA , semakin banyak tugas yang harus ku selesaikan.
Setelah sampai di rumah , Aku mengganti seragamku dengan pakaian sehari-hari yang biasa ku pakai. Setelah itu Aku langsung bergegas ke kebun untuk membantu kedua orang tuaku yang telah bekerja dari pagi. Aku memang terlahir dari keluarga yang sederhana , pekerjaan kedua orang tuaku hanyalah sebagai tukang kebun dan Aku tidak mempunyai saudara kandung. Penghasilan orangtuaku memanglah sedikit , tapi itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Walaupun keadaanku seperti ini aku merasa bahagia karena mempunyai orang tua yang hebat seperti mereka.
Ibuku memberiku nama "Widya Liza" namun , teman-temanku sering memanggilku dengan sebutan "Ghost".
Aku tidak tahu alasannya , mungkin karena aku terlalu pendiam dan terkenal cuek serta jarang senyum.
Tapi entahlah , yang jelas Aku tak suka dengan sebutan itu.
Aku selalu di bully di sekolah. Aku mempunyai satu sahabat yang mengerti aku. Agnes , ya , itulah dia. Agnes selalu ada bersamaku dalam suka maupun duka.
Latar belakang kami sangatlah berbeda , dia terlahir dari keluarga kaya. Dia orang yang sangat baik, terutama kepadaku.
Malam hari yang begitu dingin , Aku duduk termenung melihat ke arah jendela kamarku yang terbuka lebar. Entah apa yang ku pikirkan.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. Namun Aku tak memperdulikannya.
Tok...tok...tok..."Widya , apa kamu sudah tidur?" tanya Ibuku sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku tersentak dalam lamunan, lalu aku berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Belum , ada apa Bu?" Jawabku.
"Kita kedatangan tamu nak , ayo ikut Ibu ke ruang tamu." Ibu mengajakku.
Aku pun menuruti ajakan ibuku.
Tampak seorang pria berjas rapi dan formal sedang mengobrol dengan Ayahku. Aku tak mengenalnya.
Aku terus berjalan mengikuti Ibuku yang menuntunku ke ruang tamu.
Kemudian aku dan Ibu duduk berdampingan. Sedangkan Pria itu duduk tak jauh dari Ayahku.
Sesaat tidak ada yang bersuara. Semua terdiam begitupun aku yang tak tahu apa maksud semua ini dan hanya bertanya-tanya dalam hati.
Pria itu menatap ku dengan tatapan yang penuh makna dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya lalu tertunduk malu.
Tak berapa lama terdengar suara Ayah memecahkan keheningan itu ,
"Widya , berkenalanlah dengannya". Kata Ayahku sambil tersenyum melihat ke arah ku dan pria itu.
Pria itu menjulurkan tangannya padaku , Akupun menyambut tangannya.
"Perkenalkan , saya Arif". Pria itu memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Aku gugup sekali.
"Saya Widya". Kataku dan berusaha melepaskan jabatan tangannya.
Setelah itu Ayah , Ibu dan pria itu saling mengobrol. Aku hanya diam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Aku terus berjalan mengikuti Ibuku yang menuntunku ke ruang tamu.
Kemudian aku dan Ibu duduk berdampingan. Sedangkan Pria itu duduk tak jauh dari Ayahku.
Sesaat tidak ada yang bersuara. Semua terdiam begitupun aku yang tak tahu apa maksud semua ini dan hanya bertanya-tanya dalam hati.
Pria itu menatap ku dengan tatapan yang penuh makna dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya lalu tertunduk malu.
Tak berapa lama terdengar suara Ayah memecahkan keheningan itu ,
"Widya , berkenalanlah dengannya". Kata Ayahku sambil tersenyum melihat ke arah ku dan pria itu.
Pria itu menjulurkan tangannya padaku , Akupun menyambut tangannya.
"Perkenalkan , saya Arif". Pria itu memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Aku gugup sekali.
"Saya Widya". Kataku dan berusaha melepaskan jabatan tangannya.
Setelah itu Ayah , Ibu dan pria itu saling mengobrol. Aku hanya diam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
***
"ines , apa rencanamu setelah tamat SMA?". Tanyaku pada Agnes.
"Aku ingin melanjut ke perguruan tinggi , bagaimana denganmu?"
"Aku masih bingung , sebenarnya aku ingin sekali melanjut ke perguruan tinggi tapi keadaan ekonomi keluargaku sangat tak memungkinkan". Jawabku sambil memperlambat langkahku.
"Tidak usah bingung , kamu tidak sendirian Wid. Ada aku disini yang siap membantumu. Eh , maksudku bukan aku tapi mungkin orang tuaku bisa membantumu." kata Agnes sambil menggenggam tanganku.
Aku hanya terdiam dan semakin memperlambat langkahku.
"Widya , kamu tidak apa-apa kan? Apa yang kamu pikirkan? Sudahlah , tidak usah dipikirkan disini. Ayo percepat langkahmu , lima menit lagi bel sekolah akan berbunyi."
"Aku ingin melanjut ke perguruan tinggi , bagaimana denganmu?"
"Aku masih bingung , sebenarnya aku ingin sekali melanjut ke perguruan tinggi tapi keadaan ekonomi keluargaku sangat tak memungkinkan". Jawabku sambil memperlambat langkahku.
"Tidak usah bingung , kamu tidak sendirian Wid. Ada aku disini yang siap membantumu. Eh , maksudku bukan aku tapi mungkin orang tuaku bisa membantumu." kata Agnes sambil menggenggam tanganku.
Aku hanya terdiam dan semakin memperlambat langkahku.
"Widya , kamu tidak apa-apa kan? Apa yang kamu pikirkan? Sudahlah , tidak usah dipikirkan disini. Ayo percepat langkahmu , lima menit lagi bel sekolah akan berbunyi."
Komentar
Posting Komentar